Kamis, 03 Juli 2014

Kamu Jangan Terlambat!

"kang mas jangan lupa kalau janji itu hutang lho, ya!"

begitu ketikan pesan singkat dari Shinta pada Rama tunangannya yang merantau di negeri orang dan berjanji akan pulang pada libur musim panas mendatang.
berbulan-bulan Shinta menungggu kehadiran sang penentu hatinya itu di pematang sawah tempat biasa mereka mojok pas malam minggu, maklum saja karena waktu itu belum ada gedung bioskop, jadi ya terpaksa hanya malam mingguan di pematang sawah berteman semilir angin dingin dan "nguing-nguing" suara nyamuk.

libur musim panas datang, Shinta terbangun pagi sekali hari itu, dia langsung berlari ke stasiun dan duduk di kursi tunggu sambil sesekali membetulkan sanggulnya yang melorot karena belum di kancing degan baik (sanggul ada kancingnya ngga sih?)
berjam-jam dia menunggu Rama tak kunjung datang jua, lalu beberapa detik kemudian hapenya bergetar, datang pesan singkat dari sang pujaan hati, Rama.

"My Honey, kamu dimana?"

"aku di stasiun, kangmas..." balas Shinta lengkap dengan Emoticons gambar hati.

beberapa detik kemudian Rama membalas pesan singkatnya:

"aku sampai lumutan nunggu kamu jemput, pantasan nggak ketemu. kamu di stasiun  aku di terminal!"

***

baik, sebelum masuk ke tema yang sebenarnya, saya mau mengucapkan selamat berbuka puasa bagi kalian yang membaca tulisan ini sambil menggigit kabel mouse.

kemarin siang di kantor saya sedang ribut tentang pemilihan personil yang akan ikut pertemuan dengan beberapa pejabat penting dari Jakarta, saya terlibat dalam pemilihan itu, saya menyeleksi banyak orang sampai akhirnya saya lupa mengurangi diri saya sendiri jadinya saya ikut dalam pertemuan itu. kamprett..
banyak orang yang sudah saya kurangi dan tidak terjerumus dalam keribetan pertemuan itu, namun saya malah melibatkan diri dengan sangat percaya diri dan semangat berapi-api di dalam dada, saking berapi-apinya sampai kaos saya terbakar.

jumlah orang yang terlibat sudah saya print dan saya antar ke staf untuk dilaporkan dan diseleksi ulang, dari situ juga disampaikan kalau dalam acara pertemuan itu kami berangkat bukul 05:00 Waktu Indonesia Bagian Kiri.

saya pulang kembali ke mess tempat saya tinggal untuk menyiapkan barang-barang yang akan saya bawa, emm... kedengarannya bawaan saya banyak ya?
padahal cuman pulpen dan secarik kertas robekkan saja.
sampai di malam hari waktu masih tersa santai, sesantai saya mengobrol sampai jam sebelas malam, sebenarnya saya sudah ngantuk tapi di sisi lain saya masih ingin mengobrol, jadinya saya ngobrol sambil merem.

setengan dua belas malam saya baru beranjak ke tempat tidur, menarik selimut cokelat, warna awalnya sih merah tapi semakin hari bertransformasi menjadi cokelat, entahlah mungkin itu sebagian dari akibat perubahan cuaca.
setidaknya sampai pukul setengah tiga pagi hape saya berdering dan saya langsung terbangun untuk membeli lauk sahur.

singkatnya sahur selesai jam setengah empat pagi, dihitung-hitung masih ada waktu satu jam untuk bersiap-siap berangkat ke tempap pertemuan.
waktu satu jam itu saya gunakan baik-baik untuk..... tidur lagi.

lalu...
seseorang mengetuk pintu mess saya, saya membuka mata dan jam tangan melihatkan pukul 05:30.
terkaget-kaget sampai rasanya bola mata saya jatuh kelantai, saya berlari menuju kamar mandi, tapi dari jendela sudah terlihat banyak orang berseliweran sudah mengenakan pakaian rapi siap untuk berangkat.
berjingkat saya berganti baju lalu keluar mess sambil berkumur Listerine dan cuci muka di kran air depan mess

beruntung saya tidak ditinggal dan tiba ditempat pertemuan sebelum para pejabatnya datang.
sungguh menyedihkan jikalau saja saya harus mepresentasikan sesuatu dimuka banyak orang dengan muka kusut dan rambut mirip brokoli.

nasib baik masih berpihak.
muka saya pagi itu masih agak-agak terlihat maskulin, nafas juga sudah disegarkan oleh Listerin.

demikian tulisan ini saya buat dengan harapan semoga bisa menjadi suri tauladan bagi kita semua bahwasannya jika kita terlambat jangan lupa berkumur dengan listerin dan cuci muka secukupnya itu sudah cukup meruubah mukamu sedikit lebih maskulin.

Selasa, 18 Februari 2014

Kelabu Di Kaki Kelud

Pagi itu sepertinya memang berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya, orang-orang terdekat saya menyalakan TV lebih cepat dari biasanya. Setelah itu sayup-sayup saya mendengar "kelud meletus" kaget saya dalam hati, berita apa yang telah saya lewatkan?
Handphone saya aktifkan membuka portal-portal berita, ternyata benar.
Semalam Gunung Kelud yang terletak di Kediri yang beririsan dengan Blitar meletus pada pukul 22:50 WIB.

Sama sekali tak ada perasaan curiga ketika Kelud erupsi, sebab di asrama tempat saya tinggal tak satupun debu vulkanik menempel di teras kami.

***

Tim dibentuk pada hari sabtu tanggal 15, saya masuk kedalam pemberangkatan kedua pada siang hari, sebelumnya 05:30 WIB tim pertama sudah diberangkatkan ke lokasi Batu untuk membersihkan akses jalan masuk ke lokasi bencana yang lebih parah, selanjutnya Tim saya bergerak menuju daerah Kambal, Ngantang, Kabupaten Malang.

Suasana sangat kacau, pasir tebal menutupi aspal, rumah-rumah tertutup abu ditinggal warga mengungsi, awan kelabu pekat dari arah kelud juga cukup untuk memperparah suasana kala itu.
Kendaraan berlalu lalang sangat sibuk, ada truk bermuatan pengungsi, ada mobil relawan yang menembus awan pekat ke arah kelud dan juga mobil-mobil bergambar partai membagi-bagikan bahan makanan.

Peralatan dibagi, sektor pembersihan pula, ada yang mendapat cangkul lipat ada juga yang mendapat sapu.
Tim kami bersama pemuda-pemuda Basarnas mencoba mengorek pasir yang menempel dijalan, cukup sulit sebab kami semua yang bekerja kala itu banyak yang belum makan siang sementara pasir yang harus disingkirkan sangat tebal ditambah lagi lalu-lalang kendaraan mengurangi efektifitas pekerjaan kami.

Seorang pemuda Basarnas saya amati sedang menghentikan mobil relawan, dia sedang mencari makanan yang siap untuk disantap saja bukan mie instan karena tidak mungkin juga kami masih harus memasaknya di waktu kacau seperti ini. Sekardus roti dilempar kearah kami, saya mengambilnya dua bungkus sebab saya pikir itu sudah cukup untuk menipu perut saya sendiri dan untuk berbagi roti dengan yang lainnya.

Pekerjaan kami lanjutkan, lapar tak menjadi halangan, separuh jalan sudah terlihat tak tertutup pasir lagi namun tiba-tiba sirine terdengar keras dari arah kelud, kendaraan semrawut dari arah sana pula.
Saya mencoba mencari tahu dengan lebih mendekat ke arah kendaraan-kendaraan,
Satu orang dari dalam mobil berteriak

"KEMBALI!!, SEMUANYA KEMBALI!!, ADA GAS BERACUN!!!"

Beberapa detik tubuh saya kaku untuk pertama kalinya di dalam hidup, saya melihat kekacauan massa di depan mata, orang berlari-lari, kendaraan berebut ke depan,tak terkecuali mobil-mobil relawan serentak balik kanan menyelamatkan diri, namun tetap saya ingat bahwa saya bukanlah pengungsi saya masuk dalam Tim penolong yang harus bersikap tenang mengatur warga yang nampak sangat takut dan cemas.

Banyak truk membawa hewan ternak, saya tak heran sebab mungkin itu satu-satunya harta dan mata pencaharian sebagai petani atau pemerah susu sapi sangat bergantung pada hewan ternak, tapi ternyata diantara gemuruh petaka di sore itu ada kabar banyak hewan ternak yang hilang dicuri.
Hati saya mengumpat keras, menyumpahi dunia yang hanya saya bisa, sebab saya hanya mampu membantu sebagian kecil saja tapi kebaikan kecil yang kami ciptakan hari itu ditunggangi oleh beberapa orang yang mencoba mencari keuntungan di dalam petaka.

Malam telah datang menghembuskan angin dingin yang menabrak tubuh saya dalam balutan kaos lengan panjang, sunyi dan senyap bersatu dengan awan yang gelap mengirim kabar tujuh orang meninggal akibat gas beracun di hari itu.

Minggu, 27 Oktober 2013

Bergandengan Tangan

Saya sedang dikamar sambil internetan dikasur tiba-tiba hape saya menderingkan sebuah pesan singkat dari adik saya berbunnyi: "mas, buruan sarapan ditungguin dibawah"

Keluarga saya sedang dijajah elektronik.
Dari lantai bawah ke atas saja harus memanggil pakai sms, coba bayangkan ditahun 90an awal, mungkin bapak saya akan memanggil anaknya ini dengan mengirim surat ke kamar lalu diambil lagi karena lupa ditempelin perangko.

Dan baru saja saya ngobrol sama saudara saya di Semarang, pertanyaan pertama masih enak "bagaimana kabarnya?" pertanyaan kedua sedikit berbau ekonomi "tabungannya udah banyak belum?" pertanyaan ketiga ini yang sempat membuat jantung saya pindah ke kana.

"lha, kamu udah punya pacar belum?"


***

Pemirsa, camkan baik-baik.
Bahwasannya mencari pacar itu tidak semudah membalik telapak kaki kuda, mungkin itu untuk sebagian lelaki saja emmmm... termasuk saya kali ya?
Tapi tolonglah hargai kaum adam sesuai dengan harga pasarannya,  jangan bertanya soal pacar secara frontal seperti ini contohnya:

Esmeralda: kau mau kemana malam minggu nanti?

Pedro: aku mau pergi nonton film romantis

Esmeralda: oh ya!, sama siapa?

Pedro: sebenarnya sih...

Esmeralda: ah, pasti sendirian ya? kamu masih jomblo? belum nemu juga? kasian.. yang tabah yaa...

yap!, setidaknya seperti itu cukup menyakitkan, menusuk batin dan bisa memindah jantung ke sebelah kanan.

Puluhan orang tua memberi tahu saya harus mencari calon istri yang baik, yang pengertian, sopan, agamanya bagus dan nilai tambah kalau bisa bantu kerja.
saya juga selalu merasa sesak nafas kalau harus mencari yang seperti itu, untuk sekedar merayu nenek-nenek saja saya masih bingung harus memberi bunga mawar atau sarung pantai.

Semuanya buruk, saya nggak ngerti apa-apa soal pacaran. disekolah sejak SD sampai baru kemarin lulus dari Oxford belum pernah saya diajari tentang kalkulasi mencari istri, itulah sebabnya saya kagok sekali kalau pacaran.
Untungnya, Valentine itu terjadi sehari dalam setahun, kalau saja setiap hari kamis itu Valentine saya akan membeli kain putih setiap rabu untuk dikibarkan disamping rumah sebagai tanda menyerah.

Mencari pacar itu tidak mudah, sungguh tidak mudah (buat saya), saya sudah kenal dengan gadis mulai yang cantik sampai yang agak ganteng semuanya susah saya masuki pintu hatinya karena ternyata hati perempuan itu tidak berpintu, sudah saya coba pendekatan dengan metode merayap, berjalan perlahan sampai ilmu menghilang dan tetap tidak berhasil.

saya putus asa?
tidak, 'cuman rodok mangkel!' (bahasa jawa, artinya: kamu sudah makan?)
bolak-balik akeh sing takok, koen wis duwe pacar durung? (bahasa jawa lagi, artinya: jangan lupa sarapan dan jangan lupa minum susu keledai)
mungkin salah saya juga, dari waktu yang saya luangkan untuk keluar yang kata teman saya mencari kenalan, saya malah sibuk memotret gedung-gedung tua dan mencari tau soal keberadaannya di masa lalu. tidak.. tidak begitu pemirsa, saya masih normal kok, saya nggak bakalan nikah sama gedung lumutan.

Jadi kesimpulannya, jangan terlalu memojokkan kaum yang tertindas asmaranya, kirim kami doa setiap hari agar dengan senang hati melihat kalender bahwa hari sabtu hari dilewati dengan bergandengan tangan.
karena saya.... emmmm... sudahhh.... saya sudah lupa cara bergandengan tangan.

Sabtu, 19 Oktober 2013

Bina Yunior

Sore itu menjelang Maghrib saya baru saja dibelikan bola plastik oleh Budhe saya, benda yang waktu itu saya anggap ajaib karena bisa membuat saya bersumpah untuk menjadi pemain sepak bola, sedikit konyol memang karena saya yang mungkin sejak kecil sudah ditasbihkan menjadi model harus bersusah payah menjadi pemain bola.

Sepak bola adalah racun positif bagi saya, racun itu datang dari Pakdhe saya, setiap kali ada pertandingan Persebaya saya selalu diajak menonton, entah itu di TV, di stadion maupun mendengarkan radio di pojok rumah dan hanya berdua. Ini urusan laki-laki pikirku.
Dari beliau saya tahu banyak hal tentang Sepak bola, mulai pemain-pemain sampai fanatisme tentang stiker bertuliskan "PERSEBAYA IDOLAKU" yang ditempel dipintu kamarnya.

Berbekal bola plastik tersebut saya tak kenal waktu dan tempat saat bermain bola, dijalanan, di teras rumah, ruang TV sampai ruang tamu, lawannya jelas tak asing lagi yaitu Pakdhe saya sendiri dan hal ini sudah memakan korban jam dinding yang terjatuh sampai pecah dan kaca almari ruang tamu pecah pula kena tendangan saya Sungguh masa kecil yang binal.

***

"Gus, kamu mau ikut Sekolah Sepak Bola nggak?" tanya Pakdhe saya
saya tak berpikir panjang dan saya rasa di otak saya waktu itu tidak ada kata "tidak mau".
Mulai minggu itu pula saya berlatih sepak bola secara Profesional di "Sekolah Sepak Bola Bina Yunior Surabaya" yang di asuh langsung oleh Om saya yang pemain Timnas dan pemain Persebaya, Yusuf Ekodono. (Where are you now, my coach?)



Setiap minggu pagi saya diantar oleh Pakdhe saya ke tempat latihan tersebut dan saya masih ingat betul saya bernomor punggung 2 dengan kaos berwarna merah.
Gugup, Malu saya rasakan ketika pertama kali masuk SSB, saya tak kenal siapapun disini, tapi ternyata ada satu anak yang sebelumnya sudah saya kenal, Fandi Eko Utomo, putra dari Om saya yang pemain Timnas tersebut.
Semua teman berlatih sangat bersahabat namun saya merasa lebih 'klop' dengan Fandi. Latihan mengoper bola, berlari memutari lapangan semuanya kami bersebelahan yang beda mungkin hanya saat bertanding lawan Tim lain Fandi lebih sering menjadi pemain inti dan saya lebih akrab dengan kursi penonton.

Lewat  Bina Yunior pula saya dekat dengan Pemain-pemain Persebaya kala itu, saat persebaya mampu menjuarai liga Kansas pada musim 1996-1997 saya beserta Pakdhe saya diundang dalam pesta perayaan juara Persebaya di kediaman Om Yusuf, berbaur menyatu dengan tim official dan semua pemain Persebaya sungguh pengalaman yang luar biasa di masa kecil saya.

Sempat pula kala itu saya berfoto dengan pemain Persebaya yang bernama Jackson F Tiago dan Carlos De Mello, saking girangnya foto tersebut saya bawa kemana-mana termasuk saat disekolah, namun sekarang entah dimana foto kesayangan saya tersebut, hilang tak diketahui letaknya.

Berlangsung hanya kurang lebih 2 tahun saya aktif, setelah itu dunia menarik saya dari persepakbolaan klub menjadi tim bola kampung, saya lepas dari struktur pelatihan yang teroganisir karena kesibukan Pakdhe saya. sekian tahun lamanya saya tak bertemu dengan Om Yusuf dan Fandi sampai terkhir kemarin saat saya melihat Final Timnas U-23 mampu menjuarai kompetisi ternyata ada salah satu pemain disebut oleh komentator bernama "Fandi Eko" saya terkejut, teman kecil saya itu sekarang benar-benar menjadi pemain sepak bola.

Menurun bakat dari ayahnya, Fandi kini bergabung dalam squad Timnas U-23.

Teruslah berkarya mengukir prestasi cemerlang teman kecilku, sungguh membanggakan pernah berkenalan denganmu.
Tetap rendah hati dan secemerlang minggu pagi saat kita latihan bersama.