Minggu, 07 Desember 2014

Maaf Saya Lupa

Pasukan telah disiapkan untuk bertempur melawan Kurawa, ini bukan hanya sebagai penentu siapa yang pantas berdiri lebih tinggi antar lawan namun juga ada percik-percik dendam di hati prajurit Pandawa yang telah disiksa keluarganya, dirampas harta bendanya.
“dari pada aku mati lapar di rumah, lebih baik aku bersimbah darah meralawan kurawa”
Kata seorang prajurit berbadan sedikit kurus bernama  Ajigung dengan tombak kecil ditangan kirinya. Istrinya sakit, ketiga anaknya perempuan, satu yang paling besar bertugas menghidupkan dapur lapangan untuk prajurit yang bertempur dua yang lain merawat ibunya yang sulit bergerak diatas ranjang reot bekas lungsuran dari Rangga Dumetung, seorang prajurit Sandi Yudha yang selama ini sudah mengintai koordinat tertentu dari Pasukan Kurawa.
Yudistira bergerak kedepan merangsek dari banyaknya prajurit-prajuritnya sambil mengepalkan tangannya keatas lalu memberi aba-aba untuk maju kedepan dengan senjata siap untuk menebas lawan.
Tanah Kurusetra yang menjadi saksi pertempuran kala itu menjadi sangat menyala, pedang saling silang, darah mengecer dimana-mana,  Pasukan Pandawa masuk melalui sela-sela formasi perang Kurawa sampai pada akhirnya ada satu diantaranya yang tersungkur jatuh.

Dia pak Ajigung, prajurit yang berangkat bertempur tanpa sepengetahuan istrinya yang sedang sakit, mukanya memucat, tangannya gemetar namun masih erat memegang tombaknya.
Ujung bawah tombaknya menancap ditanah, badannya tersungkur sambil menunduk  dia berkaca pada percik-percik darah, mukanya semakin pucat dan pandangannya menjadi kabur, lalu rekannya membopongnya dari samping dan bertanya “kenapa, pak Ajigung?, dibadanmu tidak ada luka sayatan pedang, kenapa bapak tersungkur?”
Dengan lemas pak Ajigung menjawab  ”aku lupa belum sarapan tadi pagi”

***
Malam itu saya sedang santai di mess tempat saya istirahat sambil merapikan sprei biru kesayangku (disebut kesayangan karena belum ada gantinya, kalau lagi dicuci biasanya selimut saya jadikan sprei untuk sementara waktu. Oke clear!)
Lalu tiba-tiba hape saya bergetar mengisyaratkan sebuah SMS masuk, kenapa SMS? Bukan BBM? Karena BBM lagi naik, saya putuskan untuk pakai hape sentuh, maksudnya keypadnya yang disentuh, bukan layarnya.
Pesan singkat saya baca isinya simpel tapi menusuk kalbu: “Gus, ke kantor sebentar”
Sialan, malem lagi enaknya istirahat malah dipanggil ke kantor, sampai ditempat saya sudah duduk di depan komputer dan mengerjakan ini-itu dengan cukup cepat (tapi banyak salahnya) lantas saya print produk pekerjaan itu untuk saya setrokan ke kantor pusat, print selesai saya check ulang lagi produk tersebut dan emmm... satu hal yang keliru dan fatal, data yang saya cetak malah keliru print.

Setelah melalui beberapa koreksi pada malam itu, saya setorkan saja data tersebut ke pusat yang sudah sepi dan gelap. Baru berjalan beberapa langkah saya merasa ada yang aneh di telapak kaki saya, kaki kanan terasa longgar tapi kaki kiri kok seperti keberatan sepatu kuda gini?
Saya menunduk dan melihat ada apa di kaki saya, oh tidak ternyata saya tertukar pakai sendal, kaki kanan pakai carvil, kaki kiri pakai jepit hijau lusuh dan kekecilan.
Kenapa ya belakangan ini saya jadi sering lupa?
Pagi-pagi mau sarapan ke kantin saya malah keliru masuk ruang tamu, alhasil hampir setiap pagi saya sarapan busa kursi.
Siang juga gitu, mau menanak beras pas udah beli lauk dan mau makan ehhh... kampret malah tombolnya lupa belum ditekan, siang itu juga saya makan ayam bakar dengan beras dan kuah dari air aqua.

Dari berangkat ke kantor sampai pulang lagi selalu ada suatu hal yang kelupaan, mungkin sibuk kerja itu kurang enak kalau tidak lupa, sama seperti sayur tanpa sendok. Lantas bagaimana kita menyikapinya?

Seringnya manusia lupa itu ternyata disebabkan oleh banyak faktor, yang pertama kurang tidur, gangguan fisik, alcohol dan banyaknya pekerjaan.
Mari kita bahas satu-persatu:

Kurang Tidur
Perkerjaan selalu saya potong di jam 9 malam, kecuali tidak ada data yang harus dilembur malam itu, sepulangnya saya biasakan baca buku sampai jam 10 malam kadang lebih kadang kurang, tapi lebih banyak kurangnya sih, karena baru satu halaman dibaca mulut sudah menguap tiga kali.
Bangun biasanya jam setengah atau tepat jam 5 pagi. Ini rasanya sudah cukup bagi saya walau harus menguap ngantuk pas masih jam 9 pagi.

Gangguan Fisik
terus terang saya ngga ngerti gangguan fisik itu yang seperti apa, saya harus berkonsultasi dan menanyakannya dulu pada ahli bahasa. Bahasa ibu (ibunya buaya)

Alcohol
Bukan saya tidak macho untuk menghindari yang gini-gini, tapi emang saya lebih biasa minum air biasa ketimbang yang gini-gini, dalam tubuh saya sendiri terkandung air 80% diantaranya 50% air putih. 20% susu dan 10% sisanya adalah kuah sayur.

Banyaknya Pekerjaan
Nah ini yang paling benar, pekerjaan sering sekali menumpuk, satu belum dikerjakan sudah datang lagi dua pekerjaan.
Satu data belum disetorkan udah turun lagi lima data yang harus direvisi, kadang saya pusing, komputer juga ikut pusing, kami berdua pusing, saya minum air putih sejenak, komputer saya siram CPU nya, akhirnya komputer mati dan pekerjaan tidak selesai.


Ya seperti itu saya sekarang, lebih banyak lupa dalam mengarungi bahtera kehidupan, jadi kalau seandainya ada orang yang memesan sesuatu ke saya namun tidak saya tanggapi bukan karena saya tidak mau, tapi saya lupa.

Kamis, 03 Juli 2014

Kamu Jangan Terlambat!

"kang mas jangan lupa kalau janji itu hutang lho, ya!"

begitu ketikan pesan singkat dari Shinta pada Rama tunangannya yang merantau di negeri orang dan berjanji akan pulang pada libur musim panas mendatang.
berbulan-bulan Shinta menungggu kehadiran sang penentu hatinya itu di pematang sawah tempat biasa mereka mojok pas malam minggu, maklum saja karena waktu itu belum ada gedung bioskop, jadi ya terpaksa hanya malam mingguan di pematang sawah berteman semilir angin dingin dan "nguing-nguing" suara nyamuk.

libur musim panas datang, Shinta terbangun pagi sekali hari itu, dia langsung berlari ke stasiun dan duduk di kursi tunggu sambil sesekali membetulkan sanggulnya yang melorot karena belum di kancing degan baik (sanggul ada kancingnya ngga sih?)
berjam-jam dia menunggu Rama tak kunjung datang jua, lalu beberapa detik kemudian hapenya bergetar, datang pesan singkat dari sang pujaan hati, Rama.

"My Honey, kamu dimana?"

"aku di stasiun, kangmas..." balas Shinta lengkap dengan Emoticons gambar hati.

beberapa detik kemudian Rama membalas pesan singkatnya:

"aku sampai lumutan nunggu kamu jemput, pantasan nggak ketemu. kamu di stasiun  aku di terminal!"

***

baik, sebelum masuk ke tema yang sebenarnya, saya mau mengucapkan selamat berbuka puasa bagi kalian yang membaca tulisan ini sambil menggigit kabel mouse.

kemarin siang di kantor saya sedang ribut tentang pemilihan personil yang akan ikut pertemuan dengan beberapa pejabat penting dari Jakarta, saya terlibat dalam pemilihan itu, saya menyeleksi banyak orang sampai akhirnya saya lupa mengurangi diri saya sendiri jadinya saya ikut dalam pertemuan itu. kamprett..
banyak orang yang sudah saya kurangi dan tidak terjerumus dalam keribetan pertemuan itu, namun saya malah melibatkan diri dengan sangat percaya diri dan semangat berapi-api di dalam dada, saking berapi-apinya sampai kaos saya terbakar.

jumlah orang yang terlibat sudah saya print dan saya antar ke staf untuk dilaporkan dan diseleksi ulang, dari situ juga disampaikan kalau dalam acara pertemuan itu kami berangkat bukul 05:00 Waktu Indonesia Bagian Kiri.

saya pulang kembali ke mess tempat saya tinggal untuk menyiapkan barang-barang yang akan saya bawa, emm... kedengarannya bawaan saya banyak ya?
padahal cuman pulpen dan secarik kertas robekkan saja.
sampai di malam hari waktu masih tersa santai, sesantai saya mengobrol sampai jam sebelas malam, sebenarnya saya sudah ngantuk tapi di sisi lain saya masih ingin mengobrol, jadinya saya ngobrol sambil merem.

setengan dua belas malam saya baru beranjak ke tempat tidur, menarik selimut cokelat, warna awalnya sih merah tapi semakin hari bertransformasi menjadi cokelat, entahlah mungkin itu sebagian dari akibat perubahan cuaca.
setidaknya sampai pukul setengah tiga pagi hape saya berdering dan saya langsung terbangun untuk membeli lauk sahur.

singkatnya sahur selesai jam setengah empat pagi, dihitung-hitung masih ada waktu satu jam untuk bersiap-siap berangkat ke tempap pertemuan.
waktu satu jam itu saya gunakan baik-baik untuk..... tidur lagi.

lalu...
seseorang mengetuk pintu mess saya, saya membuka mata dan jam tangan melihatkan pukul 05:30.
terkaget-kaget sampai rasanya bola mata saya jatuh kelantai, saya berlari menuju kamar mandi, tapi dari jendela sudah terlihat banyak orang berseliweran sudah mengenakan pakaian rapi siap untuk berangkat.
berjingkat saya berganti baju lalu keluar mess sambil berkumur Listerine dan cuci muka di kran air depan mess

beruntung saya tidak ditinggal dan tiba ditempat pertemuan sebelum para pejabatnya datang.
sungguh menyedihkan jikalau saja saya harus mepresentasikan sesuatu dimuka banyak orang dengan muka kusut dan rambut mirip brokoli.

nasib baik masih berpihak.
muka saya pagi itu masih agak-agak terlihat maskulin, nafas juga sudah disegarkan oleh Listerin.

demikian tulisan ini saya buat dengan harapan semoga bisa menjadi suri tauladan bagi kita semua bahwasannya jika kita terlambat jangan lupa berkumur dengan listerin dan cuci muka secukupnya itu sudah cukup meruubah mukamu sedikit lebih maskulin.

Selasa, 18 Februari 2014

Kelabu Di Kaki Kelud

Pagi itu sepertinya memang berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya, orang-orang terdekat saya menyalakan TV lebih cepat dari biasanya. Setelah itu sayup-sayup saya mendengar "kelud meletus" kaget saya dalam hati, berita apa yang telah saya lewatkan?
Handphone saya aktifkan membuka portal-portal berita, ternyata benar.
Semalam Gunung Kelud yang terletak di Kediri yang beririsan dengan Blitar meletus pada pukul 22:50 WIB.

Sama sekali tak ada perasaan curiga ketika Kelud erupsi, sebab di asrama tempat saya tinggal tak satupun debu vulkanik menempel di teras kami.

***

Tim dibentuk pada hari sabtu tanggal 15, saya masuk kedalam pemberangkatan kedua pada siang hari, sebelumnya 05:30 WIB tim pertama sudah diberangkatkan ke lokasi Batu untuk membersihkan akses jalan masuk ke lokasi bencana yang lebih parah, selanjutnya Tim saya bergerak menuju daerah Kambal, Ngantang, Kabupaten Malang.

Suasana sangat kacau, pasir tebal menutupi aspal, rumah-rumah tertutup abu ditinggal warga mengungsi, awan kelabu pekat dari arah kelud juga cukup untuk memperparah suasana kala itu.
Kendaraan berlalu lalang sangat sibuk, ada truk bermuatan pengungsi, ada mobil relawan yang menembus awan pekat ke arah kelud dan juga mobil-mobil bergambar partai membagi-bagikan bahan makanan.

Peralatan dibagi, sektor pembersihan pula, ada yang mendapat cangkul lipat ada juga yang mendapat sapu.
Tim kami bersama pemuda-pemuda Basarnas mencoba mengorek pasir yang menempel dijalan, cukup sulit sebab kami semua yang bekerja kala itu banyak yang belum makan siang sementara pasir yang harus disingkirkan sangat tebal ditambah lagi lalu-lalang kendaraan mengurangi efektifitas pekerjaan kami.

Seorang pemuda Basarnas saya amati sedang menghentikan mobil relawan, dia sedang mencari makanan yang siap untuk disantap saja bukan mie instan karena tidak mungkin juga kami masih harus memasaknya di waktu kacau seperti ini. Sekardus roti dilempar kearah kami, saya mengambilnya dua bungkus sebab saya pikir itu sudah cukup untuk menipu perut saya sendiri dan untuk berbagi roti dengan yang lainnya.

Pekerjaan kami lanjutkan, lapar tak menjadi halangan, separuh jalan sudah terlihat tak tertutup pasir lagi namun tiba-tiba sirine terdengar keras dari arah kelud, kendaraan semrawut dari arah sana pula.
Saya mencoba mencari tahu dengan lebih mendekat ke arah kendaraan-kendaraan,
Satu orang dari dalam mobil berteriak

"KEMBALI!!, SEMUANYA KEMBALI!!, ADA GAS BERACUN!!!"

Beberapa detik tubuh saya kaku untuk pertama kalinya di dalam hidup, saya melihat kekacauan massa di depan mata, orang berlari-lari, kendaraan berebut ke depan,tak terkecuali mobil-mobil relawan serentak balik kanan menyelamatkan diri, namun tetap saya ingat bahwa saya bukanlah pengungsi saya masuk dalam Tim penolong yang harus bersikap tenang mengatur warga yang nampak sangat takut dan cemas.

Banyak truk membawa hewan ternak, saya tak heran sebab mungkin itu satu-satunya harta dan mata pencaharian sebagai petani atau pemerah susu sapi sangat bergantung pada hewan ternak, tapi ternyata diantara gemuruh petaka di sore itu ada kabar banyak hewan ternak yang hilang dicuri.
Hati saya mengumpat keras, menyumpahi dunia yang hanya saya bisa, sebab saya hanya mampu membantu sebagian kecil saja tapi kebaikan kecil yang kami ciptakan hari itu ditunggangi oleh beberapa orang yang mencoba mencari keuntungan di dalam petaka.

Malam telah datang menghembuskan angin dingin yang menabrak tubuh saya dalam balutan kaos lengan panjang, sunyi dan senyap bersatu dengan awan yang gelap mengirim kabar tujuh orang meninggal akibat gas beracun di hari itu.

Minggu, 27 Oktober 2013

Bergandengan Tangan

Saya sedang dikamar sambil internetan dikasur tiba-tiba hape saya menderingkan sebuah pesan singkat dari adik saya berbunnyi: "mas, buruan sarapan ditungguin dibawah"

Keluarga saya sedang dijajah elektronik.
Dari lantai bawah ke atas saja harus memanggil pakai sms, coba bayangkan ditahun 90an awal, mungkin bapak saya akan memanggil anaknya ini dengan mengirim surat ke kamar lalu diambil lagi karena lupa ditempelin perangko.

Dan baru saja saya ngobrol sama saudara saya di Semarang, pertanyaan pertama masih enak "bagaimana kabarnya?" pertanyaan kedua sedikit berbau ekonomi "tabungannya udah banyak belum?" pertanyaan ketiga ini yang sempat membuat jantung saya pindah ke kana.

"lha, kamu udah punya pacar belum?"


***

Pemirsa, camkan baik-baik.
Bahwasannya mencari pacar itu tidak semudah membalik telapak kaki kuda, mungkin itu untuk sebagian lelaki saja emmmm... termasuk saya kali ya?
Tapi tolonglah hargai kaum adam sesuai dengan harga pasarannya,  jangan bertanya soal pacar secara frontal seperti ini contohnya:

Esmeralda: kau mau kemana malam minggu nanti?

Pedro: aku mau pergi nonton film romantis

Esmeralda: oh ya!, sama siapa?

Pedro: sebenarnya sih...

Esmeralda: ah, pasti sendirian ya? kamu masih jomblo? belum nemu juga? kasian.. yang tabah yaa...

yap!, setidaknya seperti itu cukup menyakitkan, menusuk batin dan bisa memindah jantung ke sebelah kanan.

Puluhan orang tua memberi tahu saya harus mencari calon istri yang baik, yang pengertian, sopan, agamanya bagus dan nilai tambah kalau bisa bantu kerja.
saya juga selalu merasa sesak nafas kalau harus mencari yang seperti itu, untuk sekedar merayu nenek-nenek saja saya masih bingung harus memberi bunga mawar atau sarung pantai.

Semuanya buruk, saya nggak ngerti apa-apa soal pacaran. disekolah sejak SD sampai baru kemarin lulus dari Oxford belum pernah saya diajari tentang kalkulasi mencari istri, itulah sebabnya saya kagok sekali kalau pacaran.
Untungnya, Valentine itu terjadi sehari dalam setahun, kalau saja setiap hari kamis itu Valentine saya akan membeli kain putih setiap rabu untuk dikibarkan disamping rumah sebagai tanda menyerah.

Mencari pacar itu tidak mudah, sungguh tidak mudah (buat saya), saya sudah kenal dengan gadis mulai yang cantik sampai yang agak ganteng semuanya susah saya masuki pintu hatinya karena ternyata hati perempuan itu tidak berpintu, sudah saya coba pendekatan dengan metode merayap, berjalan perlahan sampai ilmu menghilang dan tetap tidak berhasil.

saya putus asa?
tidak, 'cuman rodok mangkel!' (bahasa jawa, artinya: kamu sudah makan?)
bolak-balik akeh sing takok, koen wis duwe pacar durung? (bahasa jawa lagi, artinya: jangan lupa sarapan dan jangan lupa minum susu keledai)
mungkin salah saya juga, dari waktu yang saya luangkan untuk keluar yang kata teman saya mencari kenalan, saya malah sibuk memotret gedung-gedung tua dan mencari tau soal keberadaannya di masa lalu. tidak.. tidak begitu pemirsa, saya masih normal kok, saya nggak bakalan nikah sama gedung lumutan.

Jadi kesimpulannya, jangan terlalu memojokkan kaum yang tertindas asmaranya, kirim kami doa setiap hari agar dengan senang hati melihat kalender bahwa hari sabtu hari dilewati dengan bergandengan tangan.
karena saya.... emmmm... sudahhh.... saya sudah lupa cara bergandengan tangan.